Berhari raya sesuai sunnah

Idul Fithri dan Idul Adh-ha adalah pengganti hari raya yang pernah dirayakan oleh masyarakat jahiliyyah dahulu, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Dahulu masyarakat jahiliyyah memiliki dua hari  dalam setiap tahunnya, di mana mereka bersuka-ria di hari itu, maka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, Beliau bersabda:

كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى * (النسائي)

“Dahulu kamu memiliki dua hari untuk bersuka-ria, dan Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik darinya, yaitu Idul Fithri dan Idul Adh-ha.”[i] (Shahih, diriwayatkan oleh Nasa’i)

Dalam berhari raya ada beberapa hal yang perlu kita ketahui: (more…)

Seri Kamus Arab-Inggris Bergambar : Kamar Tidur

Ini adalah seri kamus (mufradat)  bergambar dengan tema kamar tidur. Insya Allah setiap kamus akan berisi 12 kata plus 10 percakapan yang sering diucapkan di kamar tidur.  Kamus ini bisa dijadikan bahan ajar untuk buah hati kita tercinta agar bisa belajar bahasa arab sekaligus bahasa inggris dengan media yang menyenangkan, insya Allah.  Beri target 1 minggu untuk menghafal semua kata dan percakapan yang ada di lembar kamus bahasa arab – bahasa inggris bergambar ini.  Sungguh, diantara metode mempelajari bahasa yang baik adalah menghafal banyak kosa kata sebelum mulai belajar struktur, grammar,  dan seterusnya…  Semoga bermanfaat!

Mufradat Bed Room

Seri Kamus Arab-Inggris Bergambar : Ruang kelas

Ini adalah seri kamus (mufradat)  bergambar dengan tema ruang kelas. Insya Allah setiap kamus akan berisi 12 kata plus 10 percakapan yang sering diucapkan di ruang kelas.  Kamus ini bisa dijadikan bahan ajar untuk buah hati kita tercinta agar bisa belajar bahasa arab sekaligus bahasa inggris dengan media yang menyenangkan, insya Allah.  Beri target 1 minggu untuk menghafal semua kata dan percakapan yang ada di lembar kamus bahasa arab – bahasa inggris bergambar ini.  Sungguh, diantara metode mempelajari bahasa yang baik adalah menghafal banyak kosa kata sebelum mulai belajar struktur, grammar,  dan seterusnya…  Semoga bermanfaat!
mufradat_2_fashl

Hadits-Hadits Keutamaan membaca Al Qur’an

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ (البخاري)

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah utrujjah aromanya wangi dan rasanyapun enak, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an adalah seperti buah kurma tidak ada wanginya tetapi rasanya manis. Dan orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah seperti pohon raihaanah (kemangi) aromanya wangi tetapi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an adalah seperti pohon hanzhalah tidak ada wanginya dan rasanyapun pahit.” (HR. Bukhari)

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ (مسلم)

“Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at kepada pembacanya.” (HR. Muslim)

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Al Qur’an dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim) (more…)

Sunanul Fitrah (Panduan Merawat dan Memelihara Tubuh Sesuai Syariat Islam)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah memilihkan untuk para nabi beberapa sunnah dan memerintahkan umatnya untuk mengikutinya serta menjadikannya sebagai syi’ar yang membedakan mereka dengan selain mereka. Sunnah-sunnah itu dinamakan Sunanul Fitrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ » . قَالَ زَكَرِيَّاءُ قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ

“Ada 10 sunnah yang termasuk fitrah (yakni sunanul fitrah), yaitu: mencukur kumis, membiarkan janggut, bersiwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku, mencuci lipatan jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan beristinja’.” Zakariyya salah seorang perawi hadits tersebut berkata, “Saya lupa yang kesepuluhnya, namun kalau tidak salah adalah berkumur-kumur.” (HR. Muslim)

خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَة ِالْخِتَانُ ، وَالاِسْتِحْدَادُ ، وَنَتْفُ الإِبْطِ ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ ، وَقَصُّ الشَّارِبِ »

“Ada lima hal yang termasuk fitrah (sunanul fitrah), yaitu: khitan, istihdaad, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis.” (HR. Bukhari)

Hadits ini dan lainnya menunjukkan perhatian Islam terhadap kebersihan jasmani di samping rohani. (more…)

Dzikir setelah shalat

Setelah shalat kita dianjurkan berdzikr. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sangat disayangkan, masih ada saudara kita kaum muslimin dalam hal ini yang meremehkannya atau melampaui batas. Meremehkan di sini adalah dengan biasa meninggalkannya atau meninggalkannya secara keseluruhan (tanpa membacanya) meskipun sedikit. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا » .

“Janganlah sekali-kali kamu meremehkan perkara yang ma’ruf.” (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi)

Sedangkan melampaui batas, maksudnya adalah membaca dzikr setelah shalat namun tidak sesuai yang dibaca atau diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga mereka terjatuh ke dalam bid’ah (sesuatu yang diada-adakan), padahal syarat diterimanya ibadah adalah harus sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di samping niat yang ikhlas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengerjakan amalan (ibadah) yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak.” [HR. Muslim]

Kita dapat menyaksikan dzikr yang bermacam-macam yang dilakukan kaum muslimin. Jika kita mendatangi satu daerah, kita temukan dzikr mereka seperti ini, kemudian kita datangi daerah yang lain, dzikr mereka seperti itu, padahal Nabi umat ini hanya satu, tetapi anehnya bacaannya bisa beraneka macam dalam jumlah yang banyak. Seharusnya, karena Nabinya hanya satu, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; rasul terakhir, maka perbedaannya tidak begitu banyak; tidak seperti yang kita lihat. Ini menunjukkan bahwa bid’ah dapat memecah belah kaum muslimin.

Dalam risalah ini, insya Allah, kami sebutkan dzikr yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun masih ada lagi dzikr yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selain yang disebutkan di bawah ini.

Dzikr Setelah shalat

Silahkan klik Download pada layar di atas untuk mengunduh nya.

Shalat-shalat Sunnah

Sesungguhnya Allah mewajibkan dalam sehari semalam shalat lima waktu. Shalat lima waktu tersebut adalah tiang agama, di samping sebagai pemisah antara seseorang dengan kekufuran. Selain shalat lima waktu ada pula shalat-shalat lainnya yang disyari’atkan sebagai tambahan dan penutup kekurangan, hukumnya sunat. Shalat inilah yang disebut dengan nama shalat tathawwu’ (sunat).

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang (kewajiban) dalam Islam? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

« خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ » .

“Shalat lima waktu sehari semalam.”

Orang itu bertanya, “Apakah ada kewajiban lagi selain itu?”

Beliau menjawab, “Tidak, kecuali jika anda ingin bertathawwu’…dst.” (HR. Bukhari)

Keutamaan shalat tathawwu’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ: يَقُوْلُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ: اُنْظُرُوا فِي صَلاَةِ عَبْدِيْ أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ كَانْ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئاً قَالَ: انْظُرُوْا هَلْ لِعَبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ، فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ: أَتِمُّوْا لِعَبْدِيْ فَرِيْضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ اْلأَعْمَالُ عَلَى ذَلِكُمْ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Allah Azza wa Jalla akan berkata kepada para malaikat-Nya sedangkan Dia lebih mengetahui, “Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah dia menyempurnakannya atau menguranginya?” jika ternyata sempurna, maka dicatat sempurna. Namun jika kurang, Allah berfirman, “Lihatlah! Apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunat?” Jika ternyata ada, Allah berfirman, “Sempurnakanlah shalat fardhu hamba-Ku dengan shalat sunatnya,” lalu diambil amalannya seperti itu.” (HR. Empat orang ahli hadits dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani) (more…)

Memburu Malam Lailatul Qadar

Segala puji hanyalah untuk Allah semata, Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada nabi yang tiada lagi nabi sesudahnya, Nabi kita Muhammad dan juga kepada keluarga nya, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.  Amma ba’du.

Wahai saudaraku seiman.. Sesungguhnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ada malam kemuliaan (lailatul qadar). Ini adalah malam yang memiliki keutamaan yang agung. Diantara keutamaannya:

1. Malam lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan sebagaimana firman Allah ta’ala:

﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ * أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴾ [الدخان: 3 -5].

“ Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,(yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul” (Ad Dukhan : 3-5)

2. Malam lailatul qadar adalah malam mulia nan agung sebagaimana firman Allah ta’ala:

﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴾ [القدر: 1]

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (Al Qadar:1)

Pada malam itu Allah menetapkan apa yang terjadi sepanjang tahun dan memutuskan segala perkara nya yang penuh hikmah.

3. Malam lailatul qadar  adalah malam yang keutaman, kemuliaan, dan banyaknya kebaikan serta balasan pahala nya lebih baik dari seribu bulan sebagaimana firman Allah ta’ala:

﴿ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴾ [القدر: 3]

“ malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan” (Al Qadar:3) (more…)

Hadits-hadits Lemah dan Palsu Seputar Ramadhan

Al Hamdulillahi rabbil ‘aalamin, wash shalaatu was salaamu ‘alaa nabiyyina muhammad al amiin, wa ‘alaa aalihi wa shabihi ajma’iin, amma ba’d:

Berikut ini beberapa hadits dha’if seputar bulan Ramadhan yang sering beredar di masyarakat, kami ambil penjelasan kedha’ifannya dari beberapa kitab seperti Riyaadhul Janaan Fii Ramadhaan karya Abdul Muhsin bin Ali Al Muhsin hal. 31-36, Sifat Shaumin Nabi karya Syaikh Ali Al Halabiy dan Syaikh Salim Al Hilali, dan Silsilah Adh Dha’iifah karya Syaikh Al Albani. Kami sampaikan kepada anda agar diketahui bahwa hadits-hadits di bawah ini bukan berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits-hadits dha’if seputar Ramadhan

اَللََّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ .

1. Hadits “Allahumma baarik lanaa fii Rajab…dst.” (Artinya: Ya Allah, berikan kami keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan).

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Thabrani, dalam sanadnya terdapat Zaidah bin Abirriqaad. Imam Bukhari berkata tentangnya, “Mungkar haditsnya.” Ia didha’ifkan oleh Nasa’i dan Ibnu Hibban.

أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ .. وذكر فيه : أَنَّ أَوَّلَهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطَهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ…الخ

2. “Telah datang menaungi kamu bulan yang agung…dst.” Di sana disebutkan, “Bahwa pada permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya merupakan pembebasan dari api neraka…dst.” (more…)

Ringkasan Tata cara Shalat Sesuai Tuntunan Rasulullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

Atas dasar hadits ini, kami ingin menyampaikan sifat (tata cara) shalat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harapan semoga kita semua dapat menirunya.

Sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak shalat berdiri menghadap kiblat.

Beliau berdiri dekat dengan sutrah[1] (yakni penghalang baik berupa dinding, kayu, cagak maupun lainnya) agar tidak dilewati orang. Jarak berdiri Beliau dengan sutrah kira-kira tiga hasta (satu hasta adalah dari ujung jari tengah hingga ujung sikut).

Sebelum memulai shalat, kita harus berniat di hati (tidak di lisan), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Innamal a’maalu bin niyyaat” (sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat). (more…)