Kaana dan saudara-saudaranya (13)
By Khairul Umam Al Batawy on Agu 12, 2008 in An Nahwu Al Wadhih Jilid I
Kaana dan Saudara-saudaranya.


Contoh-contoh:
1. Kemacetan itu parah :: Kemacetan yang telah terjadi itu parah
2. Rumah itu bersih :: Rumah itu bersih
3. Baju itu pendek :: Baju itu menjadi pendek
4. rasa dingin itu memuncak :: Rasa dingin menjadi memuncak
5. Pembantu itu kuat :: pembantu itu tidaklah kuat
6. Pekerja itu rajin :: Pekerja itu tidaklah rajin
7. Orang rakus itu sakit :: orang rakus itu sakit pada pagi hari
8. udaranya lembab :: udaranya lembab di pagi hari
9. Pekerja itu kelelahan :: pekerja itu kelehan di sore hari
10. Bunga itu layu :: bunga itu layu di sore hari
11. Awan itu tebal :: awan itu tebal di waktu dhuha (sekitar jam 10)
12. Jalanan itu macet :: Jalan itu macet di waktu dhuha
13. Hujannya deras :: hujannya deras di siang hari
14. Debu berterbangan :: debu berterbangan di siang hari
15. Lampu itu menyala :: lampu itu menyala di malam hari
16. Orang sakit itu menderita :: Orang sakit itu menderita di malam hari
Pembahasan:
setiap contoh pada bagian pertama (kanan) tersusun dari mubtada’ dan khabar. Keduanya dirafa’kan sebagaimana yang kamu ketahui. Apabila kamu lihat bagian kedua (kiri), kamu mendapati contoh-contoh itu didahului oleh salah satu dari fi’il-fi’il berikut:
كاَنَ – صاَرَ-لَيْسَ-اَصْبَحَ-اَمْسَى-اضْحَى-ظَلَّ-باَتَ
apabila kamu perhatikan akhir dari isim-isim pada bagian ini, kamu mendapati bahwa isim pertama pada setiap contoh itu dirafa’kan dan isim keduanya dinashabkan seluruhnya. Perubahan ini terjadi tidak lain karena adanya fi’il-fi’il di atas yang masuk atasnya. Jika fi’il-fi’il ini apabila masuk atas mubtada dan khabar, maka ia merafa’kan (dalam arti sederhana, mendhammahkan) isimnya (mubtada) dan menashabkan (dalam arti sederhana, menashabkan) khabarnya. Begitupun juga dengan bentuk fi’il mudahari’ dan fi’il amr dari fi’il-fi’il tersebut memiliki pengaruh seperti itu kecuali “لَيْسَ“ yang tidak memiliki mudhari’ dan amr nya.
Apabila kamu perhatikan makna dari fi’il-fi’il ini, akan kamu dapati bahwa “كان“ berfungsi memberi sifat mubtada dengan khabar pada masa yang telah lalu, dan “صار“ menunjuki atas perubahan mubtada dari suatu kondisi ke kondisi lain, dan “ليس“ berfungsi sebagai penafian, adapun
اَصْبَحَ-اَمْسَى-اضْحَى-ظَلَّ-باَتَ
berfungsi memberi keterangan waktu mubtada’ dengan khabar berturut-turut waktu subuh, waktu sore, waktu dhuha, waktu siang, dan waktu malam.
KAIDAH:
18. jika كَانَ masuk atas mubtada dan khabar , maka dirafa’akan isim yang pertama (mubtada) dan disebut isim kaana “اسم كان“، dan menashabkan isim yang kedua (khabar) dan disebut khabar kaana “خبر كان“
19. Sama seperti kana, fi’il berikut juga memiliki pengaruh tersebut, fi’il itu adalah:
صاَرَ-لَيْسَ-اَصْبَحَ-اَمْسَى-اضْحَى-ظَلَّ-باَتَ
fi’il-fi’il ini disebut dengan suadara-saudara kaana
20. Setiap fi’il mudhari’ dan amar dari fi’il tersebut memiliki pengaruh seperti fi’il madhinya, kecuali ليس karena tidak punya bentuk mudhari’ dan amr nya.
Popularity: 3% [?]






Post a Comment