Keadaan Mabniy Fi'il Madhy

Keadaan Mabniy Fi’il Madhy

1. Hawa dingin memburuk

2. Debu-debu berterbangan

3. Hujan turun

4. Anak-anak bermain

5. Orang-orang bepergian

6. Para pekerja merasa lelah

7. Aku membuka pintu

8. Aku menangkap bola

9. Aku mengambil hadiah

10. Kamu benar dalam berkata

11. Kamu berhukum dengan adil

12. Kamu berbuat baik kepada manusia

13. Anak-anak perempuan belajar menenun

14. Para ibu memberi makan anak-anak mereka

15. Pata pemudi menata hidangan

16. Kami keluar ke sawah

17. Kami menghirup udara segar

18. Kami memetik bunga-bunga

(more…)

Macam-macam I'rab (4)

Macam-macam I’rab

Contoh:

1. Burung itu berputar-putar 1. Ali menyalakan lampu

2. Air itu tawar 2. Tentara-tentara itu merangkak

3. Kuda itu sangat cepat 3. Pohon-pohon itu berdaunan

********

4. Aku mellihat burung berputar-putar 4. Ali tidak akan menyalakan lampu

5. Aku meminum air yang manis 5 Para tentara tidak akan merangkak

6. Jockey menghina kuda 6. Pohon-pohon tidak akan berdaunan

********

7. Aku melihat burung berputar-putar 7. Ali tidak menyalakan lampu

8. Ikan hidup di dalam air 8. Tentara tidak merangkak

9. Jockey turun dari kuda 9. Pohon itu tidak berdaunan

Pembahasan:

الطائر ، الماء ، dan الحصان pada contoh bagian pertama (kanan) semuanya adalah isim dan pada ketiga contoh itu terletak pada tempat pertama dirafa’kan karena ketiganya merupakan mubtada dan yang menunjukkan ia rafa’ adanya dhammah pada akhir kata-kata tersebut. Pada contoh tiga contoh kedua (4,5,6) dinashabkan karena semuanya adalah maf’ul bih (objek) dan yang menunjukkan nashabnya adalah adanya baris fathah pada akhir setiap kata itu. Pada tiga contoh ketiga dijarkan karena semuanya didahului oleh huruf jar dan yang menunjukkan jarnya adalah adanya baris kasrah pada akhir setiap kata itu. Dengan ini kita melihat isim-isim ini berubah akhirnya dari rafa’ ke nashab kemudian ke jar. Kalau begitu pastilah ini isim mu’rab.

Kata-kata: يُوْقِد، تَزْحَف، dan تُوْرِق pada contoh bagian kedua (kiri) adalah fi’il mudhari. Pada tiga contoh pertama semuanya dirafa’kan karena tidak ada yang membuatnya nashab atau jazm dan yang menunjukkan rafa’nya adalah adanya baris dhammah pada akhirnya. Pada tiga contoh kedua dinashabkan karena masuknya لَنْ atasnya dan yang menunjukkan nashabnya adalah adanya baris fathah pada akhirnya. Pada tiga contoh yang terakhir dijazmkan karena masuknya huruf jazm atasnya dan yang menunjukkan jazmnya adalah adanya baris sukun pada akhirnya. Dengan ini kita melihat bahwa fi’il-fi’il ini berubah akhirnya dari rafa’ ke nashab kemudian ke jazm. Oleh karena itu pastilah ini adalah isim mu’rab.

KAIDAH:

31. Kondisi perubahan akhir-akhir kata isim mu’rab ada empat yaitu rafa’, nashab, khafadh, dan jazm dan dinamakan macam-macam i’rab.

32. Tanda-tanda i’rab yang asli ada empat yaitu dhammah, fathah, kasrah, dan sukun dan menggantikannya tanda-tanda yang lain yang disebut pada susunannya.

33. Rafa’ dan nashab keduanya ada pada isim dan fi’il, jar dikhususkan untuk isim sebagaimana jazm untuk fi’il.

update 4 September 2008:

afwan ada dua kesalahan yang ane lakukan:

- menerjemahkan ‘adzbun dengan manis, seharusnya tawar

- menerjemahkan jaamih dengan berkumpul, seharusnya sangat cepat.

jazahullah khairan untuk akhy athaillah ibnu sanuri yang telah mengingatkan

Macam-macam Mabniy (3)

Macam-macam Mabniy

Contoh-contoh:

1. Ada berapa kuda di lapangan?

2. Dengan harga berapa kamu membeli jam mu?

3. Berapa kali kamu berjanji dan kamu tidak membayar?

4. Udaranya sejuk

5. Apakah udaranya sejuk?

6. Udaranya sungguh sejuk

7. Berhentilah semaumu!

8. Berjalanlah kemanpun kamu mau!

9. Tinggallah sekiranya udaranya wangi

10. Kemarin itu panas sekali udaranya

11. Aku mengunjungi piramid-piramid kemarin

12. Kemarin aku pergi ke istana

(more…)

Mabniy dan Mu'rab (2)

Mabniy dan Mu’rab

Contoh-contoh: (more…)

Pembagian Fi'il Kepada Shahih Akhir dan Mu'tal Akhir (1)

Pembagian Fi’il Kepada Shahih Akhir dan Mu’tal Akhir

(more…)